Kisah Haru Guru Honorer Jadi Penjual Permen, Anak Putus Sekolah, Istri Minggat

Sosok ayah adalah pejuang tangguh tak kenal lelah bagi keberlangsungan hidup putra putrinya. Layaknya seorang pria bernama Herman ini.

Di tengah pandemi, ia harus rela kehilangan pekerjaan sebagai guru. Terlebih, Herman juga harus merasakan getirnya kehidupan lantaran buah hati putus sekolah.

Setelah sang istri memutuskan untuk pergi, ia harus berjibaku seorang diri. Lantas, seperti apa kisahnya? Berikut ulasannya, dilansir dari laman kitabisa, Senin (20/9).

Berjualan Permen
Herman merupakan salah satu orang terdampak dari munculnya wabah Covid yang menghantam tanah air sejak awal tahun 2020 lalu. Sekian waktu tak mendapatkan upah, pekerjaannya sebagai seorang guru honorer pun terpaksa harus berhenti.

Kini, ia menyambung hidup dengan menjadi seorang pedagang asongan. Herman mempertaruhkan seluruh tabungan miliknya sebagai modal untuk berjualan permen jahe yang rata-rata hanya laku Rp10 ribu per hari.

“Saya jual 2 permen jahe ini harganya 5 ribu. Kadang sehari yang beli cuma 1-2 orang, sering enggak laku. Bahkan sisa permennya sampai meleleh semua,” ungkapnya.

“Padahal saya sudah nabung untuk beli satu karung permen jahe. Tapi enggak balik modal, dari pagi sampai malam cuma dapat 10 ribu,” tambahnya.

Anak Putus Sekolah
Semua perjuangan Herman itu tak lain demi keempat buah hatinya. Tak pernah menyangka, kini putra putrinya terpaksa harus putus sekolah lantaran tak ada biaya.

Ucapan sang buah hati pun seolah menyayat hati Herman. Ia mendengar sang buah hati yang ingin kembali menuntut ilmu hingga menjadi seorang dokter, menggantikannya bekerja.

“Katanya, Ayah aku ingin sekolah lagi. Aku cuma mau membahagiakan Ayah, mau kejar mimpiku sebagai dokter. Biar Ayah nggak perlu jualan permen jahe lagi, biar adek gak menangis karena kelaparan,” tirunya.

Istri Pergi
Tantangan hidup itu harus Herman lewati seorang diri. Sang istri yang seharusnya menjadi motivasi terbesar bagi keluarga justru pergi dan tak pernah kembali.

“Ia berjuang mati-matian demi 4 anaknya, istrinya pergi tak pernah kembali,” dikutip dari keterangan.

Rindu Mengajar
Di tengah perjuangannya demi kehidupan keluarga, masih ada secercah harapan di lubuk hati Herman. Meski upah yang diterima hanya berkisar Rp16 ribu, masih ada keinginan kuat yang tak pernah padam.

Ia rindu deru langkah kaki para siswa hingga keramaian sekolah. Herman rindu mengajar.

“Pak Herman sering membayangkan sedang mengajar di kelas. Ia sangat rindu menjadi guru,” dikutip dari keterangan.

Sumber : merdeka.com