4 Negara Asia ini Bosen wikwik dan Ga Mau Punya Anak, Terancam Kehilangan Generasi Muda

Fenomena resesi seks sepertinya menghantui Asia. Ditulis jurnalis senior CNBC International AS Jake Novak, resesi seks merujuk ke bagaimana mood warga untuk melakukan hubungan seksual dan menikah turun tajam.

Sebenarnya, resesi berarti kemerosotan. Dalam istilah ekonomi, resesi dipakai saat terjadi pertumbuhan negatif dua kuartal berturut-turut dalam satu tahun.

Di sejumlah negara, resesi seks kini muncul sebagai dampak dari sejumlah soal. Covid-19 juga menjadi salah satu biang keladi yang mengganggu rencana pasangan untuk menikah dan menjadi orang tua.

Perubahan iklim (climate change) juga dikatakan memperburuk fenomena ini. Kedua ‘ancaman’ dunia ini makin membuat banyak orang menunda kehamilan dan mendapatkan anak.

Fenomena ini tidak hanya terjadi di negara-negara Barat, tetapi juga di wilayah Asia. Berikut deretan negara yang mengalami fenomena ini, sebagaimana dihimpun CNBC Indonesia dari berbagai sumber.

China
Malasnya orang memiliki anak terjadi di China. Hal ini membuat pemerintah secara mengejutkan memperbolehkan pasangan memiliki tiga anak sejak Mei 2021.

Ini merupakan kebijakan besar di negara terpadat penduduknya itu. Selama ini China mengontrol ketat jumlah penduduknya dengan hanya mengizinkan satu keluarga memiliki dua anak.

ari sensus nasional yang dilaporkan 11 Mei lalu, tingkat pertumbuhan tahunan China rata-rata adalah 0,53% selama 10 tahun terakhir. Ini turun dari tingkat pertumbuhan tahunan rata-rata 0,57% antara tahun 2000 dan 2010.

Angka kelahiran China terus menurun sejak 2017. Meskipun China melonggarkan “kebijakan satu anak” yang sudah disahkan selama puluhan tahun untuk mencegah krisis demografis di sana, angka tak kunjung naik.

Resesi seks ini disebabkan penurunan angka pernikahan dalam beberapa tahun terakhir. Pasangan bergumul dengan mahalnya biaya membesarkan anak di kota-kota besar.

Perempuan juga secara alami menunda atau menghindari persalinan karena pemberdayaan mereka yang semakin meningkat. Hal-hal berbau seksual yang bisa menyebabkan mereka hamil jadi dihindari.

Jepang

Beberapa waktu lalu, Kementerian Kesehatan (Kemenkes) Jepang menyatakan jumlah bayi yang lahir di Negeri Sakura tahun 2020 telah anjlok hingga ke rekor terendah. Banyaknya pasangan yang menunda pernikahan dan memiliki anak di tengah pandemi global menjadi alasannya.

Data Kemenkes Jepang mencatat jumlah kelahiran bayi turun menjadi 840.832 pada 2020, turun 2,8% dari tahun 2019 sebelumnya. Jumlah angka ini juga terendah sejak pencatatan dimulai pada 1899, sebagaimana dilansir dari Reuters.

Sementara jumlah pernikahan terdaftar di Jepang turun 12,3% tahun 2020 lalu, menjadi 525.490. Ini menjadi angka sebuah jumlah rekor terendah.

Tak hanya itu, tingkat kesuburan Jepang dan jumlah kelahiran yang diharapkan per wanita turun menjadi 1,34%, menjadi jumlah terendah di dunia. Tahun lalu juga Pemerintah Jepang berencana menaikkan angka kelahiran dengan membantu mendanai sistem perjodohan menggunakan Artificial Intelligence (AI) atau kecerdasan buatan.

Dana proyek ini diperkirakan mencapai hingga 2 miliar yen atau sekitar Rp 272 miliar.

Korea Selatan (Korsel)

Fenomena resesi seks di Korsel tidak terjadi baru-baru ini, ketika pandemi melanda dunia, tetapi memang sudah sejak lama. Ini terjadi karena banyak faktor.

Di Korsel sudah ada persatuan wanita yang menolak norma patriarkal dan bersumpah untuk tidak menikah. Mereka bahkan berjanji tak mau punya anak bahkan berkencan dan berhubungan seksual.

Kelompok feminis itu bernama ‘4B’ atau ‘Four Nos’, yang merupakan kepanjangan dari ‘no dating, no sex, no marriage, and no child-rearing’, yang artinya adalah tidak berkencan, tidak melakukan seks, tidak menikah, dan tidak mengasuh anak.

Menurut laporan, satu dekade lalu, hampir 47% wanita Korea yang lajang dan belum menikah mengatakan bahwa mereka menganggap pernikahan itu perlu. Namun sejak 2018, jumlahnya turun menjadi 22,4%.

Sementara itu, jumlah pasangan yang menikah merosot menjadi 257.600 pasangan saja, turun dari 434.900 pernikahan pada tahun 1996. Akibat hal ini, Korsel terancam menghadapi bencana demografis yang membumbung tinggi.

Saat ini, tingkat kesuburan total di Korsel turun menjadi 0,98 pada tahun 2018. Persentase ini jauh di bawah 2,1% yang dibutuhkan untuk menjaga populasi tetap stabil.

Pemerintah memperkirakan populasi Korsel yang saat ini di angka 55 juta, akan turun menjadi 39 juta pada tahun 2067. Pada tahun itu, setengah dari populasi negara tersebut akan berusia 62 tahun atau lebih.

Singapura

Negara tetangga RI rupanya juga mengalami fenomena ini. Jumlah pernikahan di negara itu turun drastis ke level terendah dalam 34 tahun terakhir sementara kelahiran warga juga tergelincir ke level terendah selama tujuh tahun.

Mengutip Channel News Asia (CNA), ada 19.430 pernikahan tahun lalu. Jumlah ini turun 12,3% dari tahun sebelumnya 22.165. Ini juga jadi catatan terendah sejak 1986, ketika ada 19.348 pernikahan.

“Pembatasan pertemuan besar pada tahun lalu bisa menyebabkan pasangan menunda pernikahan mereka,” ujar rilis Divisi Kependudukan dan Bakat Nasional Singapura, dikutip Kamis (30/9/2021).

Di tahun lalu, median usia pernikahan di Negeri Singa adalah 30 tahun untuk pria dan 28 tahun untuk wanita. Sebanyak 30% pernikahan melibatkan pasangan transnasional tapi ini turun 37% dari 2019.

Bukan hanya pernikahan, pandemi juga menyebabkan berkurangnya keputusan menjadi orang tua. Hanya ada 31.816 kelahiran di negeri itu di 2020 atau 3,1% lebih rendah dibanding sebelumnya, 32.844.

Ini adalah jumlah terendah sejak 2013. Dalam lima tahun 2016-2020, rata-rata ada 32.500 kelahiran, sedikit lebih banyak dari 32.400 dalam lima tahun sebelumnya 2011-2015.

Usia rata-rata ibu yang melahirkan pertama adalah 30,8 di 2020. Ini mirip dengan di 2019, 30,6 tahun.

Badan kependudukan Singapura mengatakan bahwa dalam survei terhadap sekitar 4.000 orang di Juni 2020, beberapa responden mengatakan bahwa mereka telah menunda pernikahan dan menjadi orang tua.

Sumber: cnbc.indonesia