Viral Jasa Bully di Medsos, Penyedia Jasa Mengaku Mahasiswa Psikologi Predikat Cumlaude, ini Tarifnya

Baru-baru ini viral penyedia jasa bully di media sosial. Informasi tersebut tersebar luas di media sosial Twitter setelah diunggah oleh akun Twitter @mazzini_gsp. Dalam unggahan tersebut, tampak tangkapan layar yang memperlihatkan layanan-layanan jasa bully tersebut.

“Aneh-aneh saja cara manusia cari mana zaman sekarang. Poin nomor 7 amazing,” katanya di keterangan foto seperti dikutip oleh Suara.com, Kamis (21/10/2021). Unggahan Twitter tersebut telah dibagikan ulang sebanyak 1,3 ribu kali. Dikelola oleh website Buzzerindonesia.com, jasa bully tersebut mengaku memberikan layanan bully tanpa menyentuh hal-hal sensitif dan melanggar undang-undang.

Pada keterangan unggahan Instagram, si pemilik akun menawarkan jasa ‘pembalasan’ untuk pelanggannya yang tidak mampu melawan pembully-an. “Anda di-bully di media sosial? Ingin balas tapi kalah bacot? Tenang kak, biar kami yang urus,” katanya.

Viral Jasa Bully di Medsos, Penyedia Jasa Mahasiswa Psikologi Predikat Cumlaude (Twitter)
Penyedia layanan tersebut memberikan secara detail fasilitas yang akan diterima oleh pelanggannya, seperti berikut ini:

1. Di-bully 50-100 akun (tergantung permintaan)
2. Stock account 234.249 akun
3. Kami pastikan tidak ada unsur hoaks, ras, agama
4. Teknik menggunakan attact psikis target
5. Briefing maksimal 3 jam sebelum eksekusi
6. Report dalam bentuk excel
7. Buzzerindonesia.com dengan basic mahasiswa/i psikolog universitas ternama, predikat cumlaude
8. identitas aman 10000%
9. Bisa identitas akun (usia, gender, kampus, dll)
10. Buzzer profesional yang menyerang tanpa menyentuh hal-hal yang sensitif dan yang melanggar undang-undang.

Viral Jasa Bully di Medsos, Penyedia Jasa Mahasiswa Psikologi Predikat Cumlaude (Twitter)
Melihat unggahan tersebut, warganet memberikan beragam tanggapan. Mereka merasa tidak setuju dengan adanya penyedia layanan bully tersebut.

“itu trik nya kak. dia ngebikin orang kena mental terus orang itu konsul ke dia. double cuan,” kata warganet.

“Sesama lulusan psikologi turut prihatin, mending ilmumu dipake buat bantu orang lain,” tambah yang lain.

“Kenapa mau maunya sih cari duit kerja kaya gini? Emang gada kerja yg lebih bermakna gitu ya?” tutur warganet.

“Belajar psikologi bertahun-tahun. Salah satunya belajar untuk paham namanya empati. Ini malah jadi yg kurang empati dengan jadi buzzer dan ngjatuhin mental korban. Meskipun ada unsur tricky nya, ya tapi aneh aja kalo sampe beneran ada anak psikologi yg ikut nglibatin dirinya,” kata warganet.

Sumber: suara.com